24 Agustus 2016 bullying

Kenali dan Hindari Bentuk Bullying pada Anak

bullyed

 

Grafik kekerasan pada anak di sekolah meningkat. Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 85% anak pernah dibuli di sekolah, dan 75% pernah melakukan kekerasan di sekolah. Sementara menurut data Unicef 2015, 50% anak pernah mengalami bullying di sekolah 

Nampaknya lewat media sosial dan internet, aksi bully dengan mudah dijumpai, seperti pada YouTube. Dari anak SD hingga SMA, aneka bentuk bullying bisa kita temukan dengan mudah.

 

Memang faktanya bullying tidak mengenal usia dan tempat. Anak usia PAUD, TK, hingga SMA pun bisa jadi korban bullying. Saat MOS (masa orientasi siswa), aksi bullying massal kerap kita lihat. Bullying, bahkan tidak saja terjadi di sekolah, dalam mobil jemputan berupa aksi ejek, menghina, hingga kekerasan fisik pun bisa terjadi.

 

Menurut Wikipedia, bullying atau penindasan adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Bullying lalu menjelma menjadi kebiasaan. Nah, kebiasaan penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antarmanusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

 

Sementara menurut psikolog Monty Setyadarma, seperti yang disebutkan dalam femina.co.id, bullying adalah tindakan mencemooh secara agresif yang bertujuan merendahkan martabat individu di hadapan sosial atau mempermalukan diri individu tersebut di hadapan orang lain. Mempermalukan berarti menunjukkan ketidakmampuan atau ketidakberdayaan seseorang, guna melemahkan kedudukannya di lingkungan sosial.

 

Salah satu penyebab bullying bisa berasal dari individu yang iri melihat keunggulan anak lain. Dengan mem-bully harapannya prestasi si anak menjadi turun. Selain itu, biasanya korban bully anak yang sering dipuji gurunya, anak baru, memiliki tubuh kecil atau gendut, serta warna kulit yang berbeda.

 

Apa saja jenis kekerasan atau bullying pada anak? Setidaknya ada empat: kekerasan dalam bentuk verbal, kekerasan dalam bentuk fisik, bullying relational (pengucilan secara sosial), serta kekerasan elektronik (bullying lewat sms, status di media sosial). Akibat dari efek bully, keadaan anak bisa takut masuk sekolah, luka di tubuh, luka perasaan, hingga bunuh diri.

 

Pencegahan bullying pada anak, adalah tugas bersama: orangtua, para pendidik di sekolah, masyakarat, dan negara perlu campur tangan. Selain itu, membekali anak agar terbebas dari bullying adalah tugas orangtua. Penyadaran bergaul secara aman dan saling menyadari bahaya dari bully juga perlu terus dikampanyekan secara rutin, baik di sekolah maupun media.

 

Nah, bagaimana cara meminilamisir aksi kekerasan atau bullying pada anak? Bagaimana cara menghindari bullying pada anak?

 

1. Membekali anak dengan rasa percaya diri dan berani melawan jika di-bully.

 

2. Menyarankan anak agar bergaul dengan sesama anak dengan perilaku baik dan “positif”,  misalnya masuk dalam kegiatan ekstra kurikuler sekolah.

 

3.  Mengajari anak belajar tegas, melawan, dan mengatakan tidak, jika fisik dan perasaannya terancam.

 

Mari waspadai dan awasi agar anak-anak kita tidak terkena bully, baik di lingkungan sekolah maupun tempat bermain mereka.

 

 

 

image dari sini

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *